Home Kesehatan Sexsomnia, Gangguan Yang Membuat Seseorang Melakukan Aktivitas Seks Saat Tidur
Sexsomnia, Gangguan Yang Membuat Seseorang Melakukan Aktivitas Seks Saat Tidur

Sexsomnia, Gangguan Yang Membuat Seseorang Melakukan Aktivitas Seks Saat Tidur

0

Pada saat sedang tidur, pernahkah anda mengalami beberapa jenis gangguan seperti mengigau, tidur berjalan, mendengkur atau ngorok dan sebagainya? Beberapa dari anda pasti pernah mengalami salah satu gangguan tidur yang telah disebutkan di atas tadi.

Meskipun gangguan tidur semacam ini sudah biasa terjadi dan tidak begitu berbahaya (terkecuali tidur sambil berjalan), namun tanpa anda sadari, hal tersebut bisa membuat orang-orang yang sedang berada di dekat anda menjadi terganggu atau tidak nyaman.

Contohnya saja ketika anda sedang tidur di samping teman anda dan anda mendengkur saat itu, orang yang berada di dekat anda tersebut bisa terbangun karena suara dengkuran yang anda keluarkan itu.

Kalau tidak percaya, coba deh anda tanya sekarang sama teman-teman anda? Kalau mereka teman yang baik, mereka akan menjawabnya dengan jujur. Tapi kalau mereka segan, ada kemungkinan mereka akan berbohong dan tidak mengatakan yang sebenarnya.

3

Ternyata, selain Sleep Walking (berjalan sambil tidur), ada juga jenis gangguan lain yang juga tak kalah berbahaya, yang bernama Sexsomnia, yaitu sebuah gangguan tidur dimana pengidapnya biasanya akan berlaku seperti tengah melakukan aktivitas seksual.

Mereka yang mengidap sexsomnia sering kali mengeluarkan suara dan gerakan layaknya sedang bercinta ataupun merancap, pada saat tidur. Apa anda pernah mengalami hal seperti itu?

Gangguan tidur ini seolah menjadi “pelengkap” dari sekian banyaknya jenis gangguan tidur yang sudah populer, seperti insomnia (sulit tidur), hipersomnia (mudah tertidur) dan juga berjalan di saat tidur (sleep walking).

Sexomnia sendiri telah mencuri perhatian media belum lama ini, tepatnya setelah sebuah kasus unik yang dialami oleh pria asal Denmark mencuat ke permukaan. Pria ini dibebaskan dari tuduhan tindakan perkosaan terhadap dua gadis remaja oleh hakim pengadilan, karena ternyata terbukti menderita gangguan tidur jenis sexomnia.

4

Seperti dilansir di dalam Associated Press, awal kisahnya dimulai saat dua gadis remaja itu pulang bersama pria berusia 31 tahun ini ke apartemen miliknya setelah sebuah pesta pada tahun 2011 selesai mereka selenggarakan.

Singkat kata, ketika mereka sedang tidur, salah satu gadis tersebut terbangun saat pria tersebut mulai memeluk dan meraba-raba tubuhnya. Tak terima dengan perlakukan tersebut, gadis ini pun kabur dan melaporkan peristiwa ini kepada pihak yang berwenang.

Berdasarkan kesaksiannya di pengadilan, gadis ini setuju dengan pengakuan si pria bahwa dirinya memang sedang tertidur ketika hendak memperkosanya saat itu. Pria ini pun mengajukan bukti adanya pemeriksaan medis dari dokter, yang menyimpulkan bahwa Ia sebenarnya menderita sexsomnia.

Dan sejak saat itu, informasi tentang jenis gangguan tidur aneh ini pun mulai tersebar luas ke masyarakat dunia. Dari namanya mungkin banyak dari anda yang akan mengira kalau penyakit ini adalah semacam kecanduan seks, tapi sebenarnya kedua hal tersebut adalah hal yang berbeda.

Untuk mengetahui lebih jelas penyakit semacam apa sexomnia ini, artikel ini akan menjelaskan beberapa hal penting, yang harus anda ketahui terkait hal tersebut.

Hal ini kami sampaikan dan informasikan pada anda karena sangat penting bagi anda untuk berjaga-jaga dan mengantisipasi kalau-kalau hal yang sama terjadi pada anda.

Pengenalan Terhadap Sexsomnia

5

Sexsomnia yang juga dikenal dengan sebutan “sleep sex” belum lama ini telah diakui oleh komunitas medis sebagai salah satu jenis gangguan tidur. Hampir sama seperti sleep walking, sexsomnia juga dianggap sebagai parasomnia.

Parasomnia sendiri merupakan sekumpulan jenis gangguan tidur yang dapat menyebabkan suatu kejadian atau pengalaman yang tidak diinginkan, yang terjadi saat seseorang dalam keadaan baru mulai tertidur, sudah terlelap, atau saat terbangun dari tidur.

Parasomnia dapat berupa berbagai hal yang dialami oleh seseorang seperti gerakan, perilaku, emosi, persepsi, hingga mimpi yang tidak wajar. Meskipun kejadian tersebut terlihat tak wajar, biasanya si penderita parasomnia tidak mengetahuinya, karena mereka tetap dalam keadaan tertidur sepanjang kejadian itu berlangsung.

Pada umumnya parasomnia terjadi setelah fase terlelap, atau di antara fase tertidur dan terbangun. Pada saat waktu transisi ini, diperlukan stimulus yang cukup kuat untuk membangunkan seseorang dan akan sulit bagi penderita parasomnia untuk menyadari perilaku yang dilakukan saat itu terjadi.

Setelah terbangun, penderita parasomnia sering kali tidak dapat mengingat mimpi yang ia alami atau hal yang terjadi dan cenderung sulit untuk kembali tertidur pada malam hari.

Parasomnia sering diartikan sebagain suatu kelainan, yang disebabkan karena otak kita tidak dapat membedakan saat tidur maupun terjaga. Begitu pula yang terjadi saat seseorang memiliki kelainan sexomnia.

Studi yang dilakukan oleh para ahli pada tahun 2010 telah menemukan beberapa informasi yang berhubungan dengan hal tersebut. Mereka melakukan analisa terhadap 832 pasien yang menderita gangguan tidur.

Dari hasil studi yang mereka laksanakan, ternyata sebanyak 7,6 persen di antaranya positif menderita sexomnia. Temuan ini juga menyimpulkan bahwa sexsomnia lebih banyak dialami oleh pria dibandingkan wanita.

Untuk penyebabnya sendiri, para ahli gangguan tidur dan seksolog sejauh ini masih belum dapat memastikan apa yang sebenarnya yang menyebabkan seseorang bisa mengalami gangguan ini.

Namun, ada beberapa faktor yang bisa menjadi pemicu yang bisa memperbesar resiko seseorang mengalami gangguan ini, seperti misalnya stres, alkohol, penggunaan narkoba dan kurang tidur. Mereka yang mengalami gangguan tidur seperti sleep walking juga terbukti lebih rentan menderita gangguan ini.

Dari cerita mengenai pria asal Denmark yang sedikit kami bahas di atas tadi, banyak orang yang mulai tertarik untuk mengenal lebih jauh penyakit ini. Dan sepertinya anda juga mulai penasarankan sekarang?

Daripada anda menjadi semakin penasaran dengan jenis gangguan tidur ini, yuk langsung saja kita simak ulasan yang telah kami sajikan di bawah ini.

Gangguan Seperti Apa Sexsomnia Itu Sebenarnya?

6

Di atas tadi sudah dijelaskan sedikit bahwa sexomnia merupakan salah satu gangguan kesehatan, dimana seseorang dalam keadaan tidak sadar (tertidur) akan melakukan aktifitas seks. Kebanyakan yang melakukannya adalah kalangan pria. Tapi tak menutup kemungkinan pula menimpa kalangan wanita.

Anda harus tahu kalau kelainan seperti ini memang nyata terjadi dan benar-benar ada. Gangguan ini biasanya melibatkan kegiatan fisik yang tidak diinginkan oleh si penderitanya. Jadi dengan kata lain terjadi begitu saja.

Sexsomnia masuk ke dalam kategori jenis gangguan tidur yang “baru” dan masih sedikit orang yang diketahui memiliki atau mengidap gangguan ini. Untuk kasusnya sendiri saja baru muncul pertama kali sekitar tahun 1986.

Dan menurut sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2015, hanya ada sekitar 94 kasus seks tidur yang telah berhasil didokumentasikan dari seluruh dunia. Sexsomnia sangat sulit untuk dipelajari ataupun diteliti dalam jangka panjang, karena gangguan ini sering kali berlangsung secara acak di malam hari.

Ciri-Ciri Pengidap Sexsomnia

g

Karena penyebab kelainan ini masih belum begitu jelas dan membutuhkan penelitian yang lebih lanjut untuk pengumpulan bukti-buktinya, namun tak ada salahnya jika anda mewaspadai penyakit ini dengan melihat apakah ada kemungkinan anda mengembangkan gangguan ini dari beberapa ciri-ciri tertentu.

Sexsomnia sering kali menyebabkan gerakan seksual melalui sentuhan saja. Tapi tak jarang pula menyebabkan seseorang sampai melakukan hubungan seksual dengan orang lain tanpa sadar. Parahnya lagi, sexsomnia juga dapat terjadi bersamaan dengan aktivitas parasomnia lainnya.

Biasanya, orang yang pertama kali melihat atau mengetahui seseorang mengidap gangguan sexomnia ini adalah pasangan, teman sekamar, atau orang tua. Adapun beberapa gejala yang sering dikait-kaitkan dengan gangguan ini dan paling umum dialami oleh orang pengidap sexsomnia antara lain:

  • Menggoda atau melakukan gerakan sentuhan ke anggota tubuh tertentu
  • Mengerang
  • Pernapasan berat dan denyut jantung tinggi
  • Berkeringat
  • Masturbasi
  • Menyodorkan panggul
  • Memulai foreplay dengan orang lain
  • Hubungan seksual
  • Orgasme spontan
  • Tidak ada ingatan akan kejadian seksual setelahnya
  • Tatapan terlihat kosong
  • Tidak responsif terhadap lingkungan luar
  • Ketidakmampuan atau kesulitan terjaga
  • Penolakan aktivitas di siang hari saat sadar sepenuhnya
  • Berjalan dalam tidur atau berbicara saat tidur

Selain gejala fisik yang terjadi selama beberapa episode, sexsomnia juga dapat menimbulkan konsekuensi yang cukup buruk seperti emosional, psikososial dan bahkan bisa menjadi sangat berbahaya pada kasus-kasus tertentu.

Pemicu Aktivitas Seks Saat Tidur

5-1-1

Kurang tidur, stres dan kerja shift bisa menjadi pemicu terjadinya sexsomnia pada seseorang. Sama seperti gangguan parasomnia lainnya, seperti berjalan dalam tidur, nampaknya sexsomnia juga dapat disebabkan oleh aktivita otak di antara siklus tidur yang dalam. Gangguan ini sering disebut gairah kebingungan (CAs).

Penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa kondisi yang memiliki faktor resiko yang jelas, terutama dalam dunia medis, seperti kebiasaan gaya hidup, pekerjaan dan obat-obatan yang mengganggu pola tidur.

Ada pula pemicu lainnya yang juga berpotensi menimbulkan sexsomnia dan sering dianggap dapat meningkatkan terjadinya gangguan ini. Beberpa pemicu tersebut antara lain:

  • Kurang tidur
  • Merasa sangat kelelahan
  • Pengkonsumsian alkohol yang berlebihan
  • Penggunaan obat-obatan terlarang
  • Kegelisahan
  • Tertekan
  • Kondisi tidur yang buruk (terlalu ringan, berisik, atau panas)
  • Kurangnya kebersihan
  • Shift kerja, terutama pekerjaan dengan tekanan tinggi, seperti pekerjaan militer atau rumah sakit
  • Berbagi tempat tidur dengan seseorang, terlepas dari hubungan mereka dengan orang tersebut
  • Obstructive sleep apnea terkait dengan banyak kasus seks, kemungkinan karena hal itu menyebabkan gangguan saat tidur nyenyak.

Beberapa orang yang mengembangkan sexsomnia di masa dewasa biasanya akan terlibat dalam perilaku parasomnia lainnya dan sekali lagi yang paling sering terjadi adalah tidur sambil berjalan. Kondisi medis yang dianggap menjadi faktor resiko untuk sexsomnia tersebut antara lain:

  • Sindrom kaki gelisah
  • Sakit maag atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)
  • Sindrom iritasi usus besar atau Irritable Bowel Syndrome (IBS)
  • Penyakit Crohn sejenis radang usus atau Inflammatory Bowel Disease (IBD)
  • Sakit kepala migrain
  • Epilepsi dan gangguan kejang lainnya
  • Obat untuk kegelisahan dan depresi, khususnya Escitalopram (SSRI)
  • Gangguan disosiatif terkait tidur, suatu kondisi yang sering dikaitkan dengan trauma seksual waktu kecil
  • Penyakit Parkinson

Pengaruh Obat-Obatan Terhadap Perilaku Sexsomnia

b

Ketika sexsomnia berhubungan dengan penggunaan alkohol atau obat-obatan, cara yang terbaik adalah dengan menghentikan sesegera mungkin penggunaan obat tersebut atau paling tidak kurangilah dosis pemakaiannya sampai pada tingkat yang lebih aman.

Perlu anda ketahui bahwa orang yang mengalami kelainan sexomnia sebagai efek samping dari penggunaan obat resep harus dengan segera dihentikan atau mengganti dosisnya jika diperlukan.

Dalam banyak kasus, manfaat obat terkadang melebihi efek samping yang sudah dijelaskan oleh dokter, jadi perawatan untuk sexsomnia dapat berfokus dengan cara mengurangi dampak dari gejala sexsomnia itu sendiri.

Sebenarnya, terdapat beberapa cara yang bisa membantu anda untuk mengatasi atau mengobati penyakit ini, yaitu:

  • Pengobatan dan Penanganan

Tampaknya cara terbaik untuk merawat kondisi orang dengan gangguan tidur yang satu ini adalah dengan menjaga jadwal tidur yang sehat dan teratur. Pada sebagian besar kasus yang dilaporkan, gejala sexomnia berkurang atau bisa diatasi saat si penderita mendapatkan tidur yang konsisten dan berkualitas tinggi.

Efek aktual dari pengobatan terhadap seksomnia itu sendiri sebenarnya masih kurang dipahami, karena gejalanya yang sangat sulit untul dilacak dalam jangka panjang. Beberapa obat mungkin akan dianjurkan untuk para penderita sexsomnia, termasuk obat penenang ringan dan antidepresan.

Dalam beberapa kasus yang telah dilaporkan sebelaumnya, obat-obatan yang dirancang dan disetujui untuk pengobatan kondisi lain telah digunakan untuk menangani seks. Mengobati kondisi yang mendasari dan menyebabkan gangguan tidur, seperti sleep apnea, juga dapat mengurangi atau mengatasi kasus sexsomnia.

Pilihan pengobatan medis untuk sexsomnia meliputi:

  1. Obat antikecemasan dan antidepresan, seperti duloxetine dan clonazepam
  2. Terapi tekanan positif nafas positif positif (CPAP)
  3. Antasida dan penghambat pompa proton (PPI)
  4. Obat penenang ringan
  5. Penjaga mulut, piring gigitan, atau perangkat kemajuan mandibula
  • Perubahan gaya hidup

Dalam hampir setiap kasus terkait seks, setidaknya sebagian dari proses pengobatan melibatkan penyesuaian gaya hidup. Karena banyak gejala seksomnia berdampak negatif pada orang lain, cara terbaik untuk mengobatinya adalah dengan mengurangi isolasi di malam hari.

Beberapa orang dengan seksomnia mengurangi gejala bermasalah yang mereka alami dengan mengunci diri di kamar tidur mereka sendiri pada saat malam hari, atau menempatkan sistem alarm di pintu kamar tidur mereka.

  • Manajemen psikologis

Mendatangi psikiater atau psikolog juga bisa mengurangi perasaan malu terkait sexsomnia. Orang dengan sexsomnia juga dapat secara signifikan mengurangi gejala emosional dan psikososial, dengan menjalani sesi konseling kelompok dengan beberapa orang, termasuk dengan orang yang terkena dampak negatif oleh gejalanya.

Dalam kasus yang paling banyak didokumentasikan, gejala sexsomnia telah membuat khawatir atau membuat marah pasangan tidur.

Sebuah studi di tahun 2007 juga menyimpulkan, bahwa kondisi sexsomnia yang dialami oleh beberapa pasangan ternyata kurang cepat, lebih lembut dan lebih fokus untuk memuaskan pasangan mereka.

Cara Mendiagnosis Sexsomnia

n

Sexomnia baru saja diklasifikasikan secara medis, jadi tidak ada proses diagnostik standar untuk kondisi ini. Seorang psikiater, yaitu seseorang yang mengkhususkan diri pada gangguan tidur, dapat mendiagnosis gangguan ini dengan meninjau riwayat kesehatan individu dan mengajukan beberapa pertanyaan seputar gejala yang mereka rasakan.

Metode diagnostik yang paling banyak digunakan untuk sexomnia adalah video-polysomnography (vPSG). Selama prose pendiagnosisan berlangsung dengan menggunakan alat yang bernama vPSG ini, pasien akan melekat pada perangkat fisiologis, seperti detak jantung, pernapasan dan pemantau gerak, yang akan direkam saat mereka tidur.

Saat ini seksomnia diklasifikasikan sebagai jenis parasomnia dalam Manual Statistik Diagnostik Gangguan Mental (DSM-5). Klasifikasi Internasional Gangguan Tidur, Edisi Ketiga (ICSD-3), juga mengklasifikasikan jenis kelamin ini sebagai jenis parasitom non-REM.

Kesimpulan

Beberapa orang mungkin akan merasa malu ketika mengetahui bahwa mereka telah melakukan hal-hal yang tidak mereka ingat, terutama yang berhubungan dengan tindakan seksual, yang dikenal sebagai sexomnia. Ini merupakan hal yang wajar terjadi mengingat segala sesuatu yang berhubungan seks bersifat tabu di mata masyarakat.

Rasa malu inilah yang terkadang menjadi masalah di sini, karena mereka tidak akan mau menceritakan masalah mereka tersebut kepada orang lain, termasuk kepada keluarga, dokter ataupun psikolog. Kalau sudah begitu, pihak medis pun akan mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi gangguan ini dan menemukan pengobatan yang tepat untuk menyembuhkannya.

Tidak jelas seberapa umum sebenarnya sexsomnia itu, tapi yang pasti gangguan ini sangat langka. Untuk kelainan seks yang satu ini, pria hampir tiga kali lipat lebih mungkin mengalaminya dibandingkan dengan wanita. Pada wanita dengan sexsomnia, biasanya mereka cenderung melakukannya dengan masturbasi.

Seseorang yang memiliki gangguan ini biasanya ditandai dengan gerakan sentuhan hingga tindakan seksual yang lebih jauh, tapi pelakunya sama sekali tidak sadar sedang melakukan hal tersebut. Biasanya orang pertama yang akan mengetahui orang tersebut mengidap sexomnia adalah orang-orang tersekat seperti orang tua dan pasangan hidup atau teman sekamar.

Walaupun terlihat tidak begitu banyak orang yang mengidap penyakit ini dan efeknya tidak begitu dianggap berbahaya, namun anda tetap harus berhati-hati. Gangguan tidur ini bisa saja dijadikan sebagai senjata untuk melakukan perbuatan tak bertanggung jawab oleh sebagian orang. Sexsomnia ini bisa digunakan orang-orang sebagai pembelaan dalam kasus-kasus pemerkosaan yang mereka lakukan.

Apakah hal tersebut belum cukup berbahaya untuk membuat anda lebih berhati-hati lagi sekarang? Jika anda pernah mengalami hal ini tapi tidak terjadi terlalu sering, anda bisa saja mengabaikannya. Tapi jika hampir terjadi setiap hari, maka anda harus segera pergi ke psikiater untuk melakukan sejumlah penanganan dan pengobatan khusus.

Itupun kalau anda memang ingin sembuh. Kalau anda tidak mau, itu juga hak anda. Tapi ingat, semakin anda biarkan dan abaikan, gangguan tersebut bisa saja bertambah parah dan akan membawa anda ke dalam masalah yang jauh lebih besar lagi. Jadi, silahkan putuskan pilihan anda sekarang.