Home Kesehatan Selain Minuman dan Obat-Obatan, Seks Juga Bisa Mengakibatkan Kecanduan
Selain Minuman dan Obat-Obatan, Seks Juga Bisa Mengakibatkan Kecanduan

Selain Minuman dan Obat-Obatan, Seks Juga Bisa Mengakibatkan Kecanduan

0

Di dunia ini ada banyak sekali kelainan kesehatan yang sudah ditemukan. Salah satunya adalah kelainan seksual. Contoh dari kelainan seksual yang cukup banyak terjadi adalah kecanduan atau ketergantungan seksual ataupun yang lebih dikenal dengan istilah hiperseksualitas dan perilaku seksual kompulsif.

Pada wanita, kecanduan ini dinamakan nymphomania, sedangkan pada wanita disebut sebagai satyriasis. Berbeda dengan kecanduan minuman atau obat-obatan, ketergantungan seks ini lebih kepada kecanduan aktivitas dan bukan substansi. Jadi mereka tidak sama kasusnya.

Jika kelainan ini mendapatkan penanganan dan pengobatang dengan segera atau secepat mungkin, pengidapnya kemungkinan besar dapat ditolong. Tapi tanpa pengobatan, penyakit tersebut akan semakin memburuk.

Sebelum masuk ke dalam penjelas apa itu kecanduan seksual dan berbagai informasi lain yang terkait dengannya, terlebih dahulu anda harus tahu beberapa fakta terkait dengan jenis ketergantungan ini, yang tidak lain adalah sebagai berikut:

  • Kecanduan seksual membuat si penderitanya menjadi kesulitan dalam mengelola perilaku seksual mereka. Mengapa hal itu bisa terjadi masih tidak jelas.
  • Perilaku seperti ini bisa berdampak buruk pada kehidupan seseorang. Namun, meskipun memiliki sejumlah dampak buruk badan kunci American Psychological Association (APA), masih belum menetapkannya sebagai kondisi yang dapat didiagnosis.
  • Tipikal perilaku ini adalah termasuk masturbasi kompulsif, penggunaan sesuatu yang berbau pornografi secara terus-menerus, eksibisionisme, voyeurisme, tindakan seksual cabul yang terus-menerus dan kegagalan untuk melawan dorongan seksual.
  • Pusat pengobatan dan kelompok swadaya kemungkinan besar dapat membantu kecanduan seksual ini.

Itulah beberapa fakta singkat mengenai kelainan atau ketergantungan seksual yang dialami oleh seseorang. Kini saatnya anda mengetahui informasi yang lebih dalam lagi tentang kelainan ini.

Makna Kecanduan Seksual

sexe-addiction1-1

Kecanduan seksual adalah kondisi dimana seseorang tidak dapat mengelola perilaku seksual mereka. Pikiran seksual yang terus-menerus mempengaruhi kemampuan mereka untuk bekerja, menjalin hubungan dan memenuhi aktivitas keseharian mereka.

Diperkirakan ada sekitar 12 sampai 30 juta orang di Amerika Serikat (AS) yang diketahui mengalami kecanduan seksual. Baik perempuan ataupun laki-laki, tingkat atau jumlah pelakunya sama saja.

American Society of Addiction Medicine menggambarkan kecanduan sebagai “penyakit utama, kronis yang menyerang sistem di dalam otak, motivasi, memori dan sirkuit terkait lainnya.”

Seperti yang telah disebutkan tadi, kecanduan seksual merupakan ketidakmampuan untuk mengendalikan dorongan seksual, yang menyebabkan hubungan dan kualitas hidup terganggu.

Seseorang dengan kecanduan seksual ini biasanya akan sangat terobsesi dengan seks atau memiliki dorongan seksual yang tidak normal.

Pikiran mereka umumnya didominasi oleh aktivitas seksual, sampai pada titik dimana hal ini lambat laun akan mempengaruhi aktivitas dan interaksi yang lainnya. Jika dorongan ini menjadi tidak terkendali, orang tersebut dapat mengalami kesulitan dalam situasi sosial.

Dalam beberapa kasus, seseorang dengan kehidupan seks yang sehat dan menyenangkan bisa mengalami obsesi. Mereka mungkin merasa dirangsang oleh tindakan dan fantasi yang kebanyakan orang anggap tidak dapat diterima.

Dalam beberapa kasus, orang tersebut mungkin memiliki gangguan paraphilic, seperti pedofilia. Ini adalah kelainan yang dapat didiagnosis dan sangat berbahaya.

Kecanduan seksual belum sepenuhnya ditetapkan sebagai kondisi medis, meski bisa berdampak buruk pada keluarga, hubungan dan kehidupan. Salah satu kesulitan untuk mengidentifikasi kecanduan seksual adalah bahwa orang memiliki tingkat dorongan seks, atau libido yang berbeda.

Seseorang bisa saja menganggap pasangan mereka sebagai “pecandu seks” hanya karena mereka memiliki dorongan seks yang lebih tinggi. Itulah sebabnya mengapa masih diperlukan penelitian yang lebih lanjut untuk mengetahui dan menetapkan bahwa kecanduan seksual merupakan sebuah gangguan.

Ciri-Ciri Orang Yang Ketergantungan Seks

iStock_000039610650_Full-768x512

Sebenarnya, seks merupakan salah satu kebutuhan manusia yang harus dipenuhi. Hanya saja, pemenuhannya harus dilakukan dengan cara yang benar dan sesuai aturan yang berlaku.

Dengan kata lain, semua boleh berhubungan seks, tapi ada syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Salah satunya adalah anda dan pasangan anda harus sudah memiliki status sebagai suami isteri. Setidaknya begitulah aturan yang ada di Indonesia. Tak tau apakah di negara lain hal yang sama juga berlaku di tempat lain.

Jika dilakukan dengan cara yang benar dan tepat, maka seks bisa memberikan banyak manfaat kesehatan bagi para pelakunya. Beberapa di antaranya adalah membantu menghilangkan stress, meningkatkan kualitas tidur, baik untuk kesehatan jantung dan masih banyak lagi manfaat yang lainnya.

Tapi jika disalahgunakan ataupun terjadi kelainan seperti ketergantungan misalnya, aktivitas seks yang tadinya menyenangkan malah akan menimbulkan hal yang sebaliknya. Bukan dampak baik, melainkan efek yang buruk untuk kesehatan.

Beberapa upaya untuk mendefinisikan karakteristik seseorang yang mengalami kecanduan seksual didasarkan pada literatur tentang ketergantungan kimia. Kecanduan seksual dapat berbagi sistem reward dan sirkuit yang sama di otak sebagai kecanduan zat.

Namun, orang dengan kecanduan seksual biasanya terdiri dari berbagai jenis perilaku seksual yang berbeda. Hal ini membuat kondisi tersebut menjadi sulit didefinisikan. Ini juga menunjukkan bahwa kelainan seks jenis ini bukan berasal dari tindakan individu, melainkan obsesi untuk membawa mereka keluar dari zona mereka yang biasa.

Kecanduan seksual juga tampaknya melibatkan pembuatan peraturan untuk mengendalikan kondisi tersebut, dan kemudian membobolnya untuk membuat peraturan baru.

Aktivitas yang berhubungan dengan kecanduan seksual bisa meliputi:

  • Masturbasi kompulsif
  • Penggunaan pornografi secara terus-menerus
  • Tindakan mempraktikkan seks yang tidak aman
  • Cybersex, yaitu melakukan hubungan seks melalui internet menggunakan software atau media jejaring sosial. Bahaya cyber sex terjadi jika pelaku mengalami kecanduan atau melakukannya bukan dengan pasangan yang sah sebab berpotensi menyebabkan keretakan dalam rumah tangga.
  • Kunjungan ke tempat-tempat wanita penghibur
  • Eksibisionisme, yaitu berasal dari kata exhibition yang berarti pameran atau memamerkan. Dalam dunia psikologi, eksibisionis merupakan dorongan seksual yang terus-menerus dan mendesak dengan mempertontonkan bagian genitalnya kepada orang lain. Dorongan tersebut bertujuan untuk membuat orang terkejut, takut, atau kagum.
  • Voyeurisme, yaitu kondisi dimana seseorang memiliki prefensi tinggi untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat orang lain yang tanpa busana atau sedang melakukan hubungan seksual. Pada beberapa laki-laki voyeurism adalah satu-satunya aktivitas seksual yang mereka lakukan.

Seseorang dengan kelainan seks ini biasanya memiliki sejumlah perilaku dan sikap yang meliputi:

  • Ketidakmampuan untuk menahan dorongan seksual dan menghormati batasan orang lain yang terlibat dalam tindakan seksual, dimana aktivitas seksual tidak memuaskan individu secara emosional.
  • Obsesi untuk menarik orang lain, jatuh cinta dan memulai roman baru, sering kali mengarah pada serangkaian hubungan
  • Menunjukkan sikap merasa bersalah dan malu.
  • Memiliki kesadaran bahwa dorongan tersebut tidak terkendali, terlepas dari konsekuensi finansial, medis, atau sosial
  • Kerap mengalami kegagalan tiap kali mencoba untuk menahan impuls atau rangsangan untuk terlibat di dalam tindakan seksual (tindakan cabul) yang ekstrim.
  • Keterlibatan dalam perilaku seksual lebih lama dari yang diinginkan
  • Beberapa upaya untuk menghentikan, mengurangi, atau mengendalikan perilaku selalu gagal dilakukan
  • Waktu dan energi yang berlebihan habis demi mendapatkan kepuasan seks, pengalaman seksual tertentu.
  • Rela melepaskan aktivitas sosial, pekerjaan yang sedang dijalankan, atau rekreasi dengan teman atau keluarga karena kecanduan pada kebutuhan akan seksual.
  • Mengalami beberapa gangguan kemarahan seksual, dimana seseorang menjadi tertekan, cemas, gelisah dan mungkin menjadi ganas jika tidak mendapatkan aktivitas seksual yang diinginkan.

Sebuah studi telah menunjukkan hubungan yang kuat antara dugaan kecanduan seksual dengan pengambilan resiko. Kecanduan seksual dapat menyebabkan seseorang bertahan dalam mengambil resiko, meskipun ada konsekuensi kesehatan, seperti infeksi menular seksual (IMS), cedera fisik, atau konsekuensi emosional.

Komplikasi Yang Mungkin Ditimbulkan

Perilaku seksual kompulsif yang tidak diobati dapat membuat individu tersebut menjadi merasa bersalah dan rendah diri. Beberapa pasien mungkin mengalami kecemasan dan depresi berat.

Komplikasi lainnya yang kemungkinan terjadi adalah meliputi:

  • Masalah hubungan keluarga, yang bisa berakibat pada keputusan perpisahan
  • Masalah keuangan, jika si pelaku mencari kepuasan di luar (mencari wanita bayaran atau penghibur).
  • IMS, penyakit atau infeksi yang umumnya ditularkan melalui hubungan seks yang tidak aman. Penyebaran bisa melalui darah, sperma, cairan vagina, atau pun cairan tubuh lainnya.
  • Konsekuensi hukum, jika tindakan seksual itu dianggap ilegal oleh hukum atau dianggap mengganggu kehidupan publik, seperti dalam eksibisionisme

Penyebab Kecanduan Seksual

the-ranch-sex-addiction-min-768x403

Penyebab dari perilaku seksual yang menyimpang ini masih belum diketahui dengan pasti. Akan tetapi, kecanduan berakar di pusat reward otak. Hal ini mungkin saja terjadi ketika beberapa bagian otak mengalami kesalahan tanggapan kesenangan untuk mekanisme bertahan hidup.

Otak tengah adalah bagian otak yang menangani sistem penghargaan tubuh dan naluri untuk bertahan hidup. Seiring waktu, aktivitas seksual akan menciptakan deru dopamin, yaitu neurotransmiter penting yang terdapat pada otak manusia, yang berfungsi sebagai pengantar pesan atau rangsangan antar saraf, dan sebagai hormon.

Umumnya, molekul kecil ini dilepas saat sebuah saraf terangsang untuk menstimulasi saraf lainnya yang letaknya berdekatan. Zat inilah yang memicu timbulnya perasaan senang. Ada kemungkinan kalau otak tengah ini melakukan kesalahan pengartian perasaan kesenangan sebagai pusat untuk bertahan hidup.

Salah satu kemungkinannya adalah bahwa, pada orang dengan kecanduan seksual, korteks frontal, atau pusat logika dan moralitas otak, terganggu oleh otak tengah.

Studi pada tikus telah menghubungkan lesi (keadaan jaringan yang abnormal pada tubuh) pada bagian otak yang disebut korteks prefrontal medial (mPFC) dengan perilaku seksual kompulsif. Hal ini dapat menjelaskan beberapa penyebab hiperseksualitas pada manusia.

Beberapa penelitian telah menemukan frekuensi perilaku seksual adiktif yang lebih tinggi pada orang-orang dari keluarga disfungsional.

Sejumlah besar orang yang mulai pulih dari kecanduan seksual telah melaporkan beberapa jenis kecanduan di antara anggota keluarga mereka. Hal itu bisa terjadi bersamaan dengan kecanduan lainnya.

Kriteria Diagnosa Hiperseksualitas

041835300_1462268693-o-SEX-ADDICTION-facebook_Huffington_Post

Gejala kecanduan seksual mungkin mirip dengan kecanduan lainnya, namun kriteria diagnostik untuk kecanduan seksual itu sendiri masih tetap dalam perdebatan. Dan karena alasan ini, ada berbagai kriteria yang perlu anda ketahui untuk mendiagnosis kondisi tersebut. Diantaranya:

Hiperseksualitas bukanlah diagnosis formal, menurut Manual Diagnostik dan Statistik Diagnostik Mental Psikiatri Amerika (APA), Edisi 5 (DSM-V), hal ini dikarenakan kurangnya bukti yang mendukung keberadaannya sebagai suatu kondisi atau keadaan tertentu.

Namun, the International Classification of Diseases, Tenth Edition (ICD-10) telah menyediakan kategori dimana hiperseksualitas sesuai: “F52.8: yaitu merupakan disfungsi seksual lain yang bukan disebabkan karena zat atau kondisi fisiologis yang diketahui.”

Dorongan seksual yang berlebihan, nymphomania dan satyriasis semuanya termasuk dalam kategori ini.

The Semel Institute for Neuroscience and Human Behavior, UCLA, mengemukakan dalam sebuah penelitiannya tahun 2012 bahwa agar kecanduan seksual memenuhi syarat sebagai gangguan kesehatan mental, seseorang harus :

“Merasakan khayalan, perilaku dan dorongan seksual yang berulang dan berlangsung lebih dari 6 bulan dan bukan disebabkan karena faktor, seperti pengobatan, kondisi medis lain, penyalahgunaan zat, atau episode manik (Manic Episode) yang terkait dengan gangguan bipolar.”

NB: Manic Episode keadaan suasana hati yang ditandai dengan periode setidaknya satu minggu di mana suasana hati yang tinggi, ekspansif, atau luar biasa mudah tersinggung ada.

Seseorang yang mengalami episode manik biasanya terlibat dalam aktivitas tujuan yang diarahkan di luar aktivitas normalnya. Orang menggambarkan suasana hati manic sebagai perasaan sangat gembira dan mampu melakukan atau mencapai apapun. Perasaan itu diibaratkan seperti optimisme ekstrem.

Karena masyarakat telah menemukan banyak contoh dari kelainan atau kecanduan seksual ini, serta melihat adanya konsekuensi yang telah muncul di masyarakat, kelainan ini akhirnya diterim secara luas sebagai kondisi mental yang sah.

Kecanduan Seksual atau libido Yang Tinggi

Salah satu tantangan di sini adalah membedakan kecanduan seksual dengan libido yang tinggi. Libido adalah istilah yang penggunaannya secara umum berarti gairah seksual.

Dalam definisi yang bersifat lebih teknis berdasarkan yang dikemukakan oleh Carl Gustav Jung, libido mempunyai pengertian sebagai energi psikis yang dimiliki individu untuk digunakan untuk perkembangan pribadi atau individuasi.

Seorang dokter psikiatri yang berkualitas dan berpengalaman tentu dapat membedakan antara libido yang tinggi dan pola ketergantungan pada rangsangan seksual atau gangguan paraphilic lainnya yang memerlukan perhatian medis.

Dua fitur utama yang dapat membantu profesional kesehatan untuk melakukan hal tersebut antara lain:

  • Kegagalan untuk mengendalikan perilaku yang berlangsung secara konsisten
  • Kelanjutan perilaku meski merugikan

Kriteria Lainnya

Dr Aviel Goodman, selaku direktur Minnesota Institute of Psychiatry, telah mengajukan kriteria yang serupa dengan yang digunakan dalam kecanduan zat atau substansi tertentu. Kriteria tersebut akan mendiagnosis kecanduan seksual saat kerusakan atau kesalahan yang signifikan terjadi karena disebabkan oleh pola perilaku tertentu.

Untuk menerima diagnosis, seseorang harus menunjukkan setidaknya tiga sifat berikut ini selama periode 12 bulan. Perilaku yang dimaksud berhubungan dengan masalah toleransi dan penarikan. Mereka tidak akan menyesuaikan diri dengan keadaan pribadi yang berubah akibat kecanduan seksual.

  • Perilaku perlu meningkatkan frekuensi dan intensitas untuk mencapai efek yang diinginkan.
  • Melanjutkan pada tingkat atau intensitas yang sama tapi gagal menghasilkan efek yang diinginkan.
  • Menghentikan perilaku menyebabkan sindrom penarikan, termasuk perubahan fisiologis atau psikologis.
  • Perilaku serupa terlibat pada tindakan meringankan atau menghindari gejala penarikan diri.

Kriteria lain yang mungkin termasuk:

  • Terlibat dalam perilaku seks untuk waktu yang lebih lama atau dengan intensitas atau frekuensi yang lebih tinggi daripada yang diinginkan.
  • Memiliki keinginan terus-menerus untuk mengurangi atau mengendalikan perilaku, atau membuat usaha yang tidak berhasil untuk melakukannya.
  • Menghabiskan banyak waktu untuk kegiatan yang diperlukan dengan tujuan mempersiapkan diri untuk terlibat dan pulih dari perilaku tersebut.
  • Melepaskan atau mengurangi kegiatan sosial, pekerjaan, atau rekreasi yang penting karena perilaku tersebut
  • Melanjutkan perilaku meskipun mengetahui bahwa hal itu cenderung menyebabkan atau memperburuk masalah fisik atau psikologis yang terus-menerus.

Pengobatan Yang Bisa Mengatasi Kecanduan Seksual

sexual-addiction-treatment-768x575

Kecanduan bisa sulit diobati, karena orang dengan kecanduan akan sering merasionalisasi dan membenarkan perilaku dan pola pikir mereka. Orang dengan kecanduan seks mungkin menyangkal adanya masalah.

Pilihan pengobatan untuk seseorang yang mengalami ketergantungan seks saat ini bertujuan untuk mengurangi dorongan berlebihan, untuk terlibat dalam hubungan seksual dan untuk mendorong pemeliharaan hubungan yang sehat.

Adapun pilihan pengobatan yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut :

  • Organisasi swadaya, seperti Pecandu Seks Anonim, Sexaholics Anonymous, Sexual Compulsives Anonymous, and Sex and Love Addicts Anonymous, yang menawarkan program 12 langkah untuk membantu individu dalam mengelola sendiri kondisi tersebut.
  • Program perawatan residensial, yang tersedia untuk individu dengan berbagai gangguan kecanduan. Ini adalah program rawat inap, dimana individu tinggal di tempat yang difasilitasi dan mendapat perawatan dari terapis khusus.
  • Terapi perilaku kognitif (CBT), menyediakan berbagai teknik yang membantu individu mengubah tingkah lakunya. CBT dapat memperlengkapi seseorang untuk menghindari kambuh dan memprogram ulang perilaku seksual yang berbahaya.
  • Obat resep, seperti Prozac, dapat diresepkan untuk mengurangi dorongan seksual, namun obat tersebut belum disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) A.S. untuk merawat kondisi ini.

Kesimpulan

Setelah membaca penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa seks tak hanya sekedar kebutuhan alami manusia yang bisa memberikan manfaat kesehatan untuk pelakunya, tapi juga memberikan dampak yang buruk, terutama bagi orang-orang yang memiliki kelainan seks, seperti ketergantungan seks misalnya.

Kecanduan seks sendiri diartikan sebagai sebuah kondisi dimana seseorang tak lagi mampu untuk mengatur, menjaga, menahan keinginan seksualnya yang kuat. Kelainan ini bisa mempengaruhi kemampuan seseorang dalam bekerja, merusak hubungan yang sedang dijalani, dan lain sebagainya.

Seseorang yang tidak bisa menahan keinginannya untuk melakukan hubungan seks ini tak jarang menyebabkan orang tersebut berlaku kriminal dan melanggar hukum, hanya demi memuaskan keinginannya untuk bercinta. Tak hanya pria, wanita juga memiliki kemungkinan yang sama besar untuk terserang penyakit ini.

Jika dibiarkan terus berlarut-larut seperti ini, orang tersebut akan mendapatkan masalah yang besar, tak hanya tersangkut masalah hukum, dikucilkan dari masyarakat, hubungan perkawinan atau keluarga menjadi hancur, tapi juga bisa menimbulkan banyak masalah kesehatan yang berbahaya bahkan mematikan, seperti kanker misalnya.

Oleh karena itu, mereka sangat memerlukan dukungan dari teman dan keluarga mereka. Dukungan ini khususnya sangat penting bagi seseorang yang baru pulih dari kecanduan.

Ketergantungan seksual yang menjadi masa lalunya biasanya akan sulit diterima oleh masyarakat, terutama jika hal itu telah menyebabkan kerusakan dalam hubungan. Itulah sebabnya mengapa anda tidak seharusnya mengucilkan mereka, melainkan mendorong mereka untuk segera berubah dan sembuh.

Jadi kalau ada teman anda yang sedang dalam tahap pemulihan dari ketergantungan seks yang dialaminya, tolong jangan jauhi dia, karena anda harus tahu kalau orang tersebut telah berusaha dengan keras untuk berhenti. Berikan mereka dukungan, karena menjauhi mereka hanya akan memperburuk keadaan mereka.