Home Kesehatan Misophonia, Penyakit Yang Membenci Adanya Suara Tertentu
Misophonia, Penyakit Yang Membenci Adanya Suara Tertentu

Misophonia, Penyakit Yang Membenci Adanya Suara Tertentu

0

Pernahkah anda ketika sedang makan di suatu tempat bersama pasangan ataupun keluarga tercinta, lalu anda mendengar suara orang mengunyah makanan dan membuat anda merasa tidak nyaman? Bisa jadi anda mengalami suatu keadaan yang disebut dengan Misophonia.

Misophonia berasal dari bahasa Yunani, miso berarti benci dan phon berarti suara, sehingga jika diartikan secara harafiah misophonia berarti benci akan suara.

Kita semua pada umumnya tidak menyukai ketika mendengar suara goresan kuku di papan tulis atau suara kursi yang digeser. Perasaan ini mungkin masih masuk dalam kategori normal.

Namun, bagi orang tertentu yang mengidap Misophonia suara seperti mengunyah atau meludah dapat menimbulkan kepanikan, kegelisahan bahkan kemarahan.

Tetapi mereka yang mengalami kondisi misophonia biasanya tidak terganggu dengan suara-suara tersebut jika suara itu mereka ciptakan sendiri. Adapun Pemicu lainnya adalah suara bayi, suara mobil, suara binatang, suara alat berat, suara TV, radio dan lain-lain.

Nah, pada kesempatan kali ini, kami akan mengulas apa itu sebenarnya Misophonia dan apa penyebab pasti penyakit ini. Mari kita caru tau bersama-sama disini.

Pengertian Misophonia

21-768x421

Misophonia yang dikenal sebagai kelainan berupa rasa benci terhadap suara menyangkut reaksi otak dalam mengolah dan menterjemahkan suara ini ditemukan sekitar 20 tahun lalu.

Misophonia untuk pertama kalinya berhasil diidentifikasi pada tahun 1997 oleh seorang ahli suara yang bernama Marsha Johnson dan menamakannya dengan 4S atau yang dikenal sebagai “Selective Sound Sensitivity Syndrome”.

Pada tahun 2000, untuk pertama kalinya dipakai istilah Misohonia oleh pasangan peneliti Margaret dan Pawel Jastreboff dari Emory University.

Kelainan ini biasanya mulai muncul pada usia 9-13 tahun dan lebih umum terjadi pada perempuan dan akan bertambah parah dengan semakin bertambahnya usia. Gejala ini umumnya muncul tiba tiba dan sama sekali tidak ada hubungan dengan kejadian tertentu.

Sampai saat ini memang belum dikatahui secara pasti penyebabnya, namun sudah dipastikan bukan disebabkan oleh kelainan pada telinga. Diduga kelainan ini merupakan kombinasi antara faktor fisik dan mental. Kelainan ini juga dapat terkait dengan reaksi otak terhadap suara dan juga reaksi spontan dari tubuh.

Kelainan ini memang sulit untuk didiagnosa secara klinis dan seringkali terjadi kesalahan diagnosa karena sulit membedakannya dengan kegelisahan, bipolar ataupun obsessive compulsive disorder.

Misophonia ini berbeda dengan kalainan yang dinamakan dengan “hyperacuisis”, yaitu kondisi dimana suara biasa terdengar sangat keras dan menyakitkan ataupun tinnitus yaitu kelaianan seperti mendengar suara di telinga, namun sebenarnya terjadi di otak.

Pada tahun 2017 hasil studi menunjukkan bahwa penderita misophonia mengalami abnormalitas berupa aktivitas yang tinggi di wilayah otak yang dinamakan anterior insular cortex jika terkespos pada suara. Bagian otak ini berhubungan dengan kesadaran kita untuk memusatkan perhatian.

Pusat otak yang mengolah suara akan berekasi lebih aktif pada penderita misophonia jika mendengar suara. Hasil scan otak juga menunjukkan adanya hyperconnectivity antara sistem pendengaran dan sistem pengolah emosi.

Gejala

22-3

Karakteristik utama misophonia adalah reaksi yang sangat ekstrem seperti kemarahan atau agresif pada orang yang membuat suara tersebut. Kekuatan reaksi dan bagaimana seseorang dengan kondisi ini meresponsnya sangat bervariasi. Beberapa orang mungkin mengalami gangguan dan iritasi, sementara yang lain bisa menjadi sangat marah.

Baik pria maupun wanita dapat mengembangkan misophonia pada usia berapapun, walaupun orang biasanya mulai menunjukkan gejala pada masa anak-anak atau usia saat menginjak remaja.

Bagi kebanyakan orang yang mengidapnya, misophonia dipicu oleh satu suara tertentu, namun suara tambahan dapat menimbulkan respon dari waktu ke waktu.

Orang dengan misophonia menyadari bahwa reaksi mereka terhadap suara berlebihan dan intensitas perasaan mereka dapat membuat mereka berpikir bahwa mereka kehilangan kendali.

Studi telah mengidentifikasi beberapa tanggapan berikut ini sebagai gejala misophonia, antara lain sebagai berikut:

  • Kemarahan.
  • Emosi.
  • Kebencian.
  • Panik.
  • Takut.
  • Tekanan emosional.
  • Sebuah keinginan untuk membunuh atau menghentikan apa pun yang membuat kebisingan.
  • Bulu kuduk berdiri.
  • pikiran untuk bunuh diri.

Cukup berpikir tentang menemui suara yang memicu misofonia mereka bisa membuat orang dengan kondisi merasa stres dan tidak nyaman. Secara umum, mereka mungkin memiliki lebih banyak gejala kecemasan, depresi, dan neurosis daripada yang lain.

Selain respons emosional, penelitian telah menemukan bahwa individu dengan misofonia biasanya mengalami sejumlah reaksi fisik, termasuk:

  • Gelisah.
  • Tidak nyaman.
  • Dorongan untuk melarikan diri.
  • Jijik.

Bagaimana Misophonia Bisa Terjadi?

23

Kondisi ini terjadi seumur hidup, biasanya dimulai antara usia 9-13 tahun dan lebih sering terjadi pada perempuan. Penyakit ini datang tiba-tiba, tetapi tidak berhubungan dengan kejadian apapun.

Dokter tidak yakin apa yang menyebabkan misophonia, tapi bukan telinga anda yang bermasalah. Dokter menduga hal ini merupakan gabungan dari masalah mental dan fisik. Hal ini dapat berhubungan dengan bagaimana suara mempengaruhi otak anda dan memicu respons otomatis dalam tubuh anda.

Karena telinga dan pendengaran anda normal, dokter dapat memiliki masalah dengan penegakan diagnosis. Misophonia kadang-kadang keliru didiagnosis sebagai gangguan kecemasan atau bipolar atau gangguan obsesif kompulsif. Beberapa dokter berpikir bahwa misophonia harus diklasifikasikan sebagai gangguan baru.

Dampak yang ditimbulkan

24-768x417

Bagi mereka yang menderita misophonia, berada di keramaian dapat menyebabkan rasa tidak nyaman karena kemungkinan adanya mendengar suara yang tidak mereka sukai.

Penderita misophonia mungkin akan menghindari acara makan bersama atau makan terpisah dari keluarga dan kerabat mereka serta mengurung diri dan tidak ingin terlibat acara sosial apapun.

Jika dibiarkan, hal ini dapat menyebabkan penderita misophonia mengalami depresi. Dampak yang lebih parah juga dapat terjadi misalnya menyerang seseorang yang menghasilkan suara yang membuat mereka tidak nyaman.

Cara Mengatasi

25

Kondisi ini tidak mempengaruhi kehidupan sehari-hari, tetapi anda dapat belajar untuk mengatasinya. Banyak yang sudah menawarkan terapi suara yang dikombinasikan dengan konseling psikologis. Dokter akan mengatur suara latar untuk menangkal suara yang memicu kondisi misophonia.

Anda dapat mencoba perangkat seperti alat bantu dengar yang menciptakan suara di telinga anda mirip dengan air terjun. Kebisingan lain mengalihkan perhatian anda dari pemicu dan mengurangi reaksi yang biasa terjadi jika anda mendengar suara yang dibenci. Pengobatan lain meliputi terapi bicara dan antidepresan.

Gaya hidup anda juga berperan untuk mengatasi penyakit ini. Biasakan olahraga secara teratur, banyak tidur dan cara mengendalikan emosi anda. Anda juga bisa mengenakan earplugs atau headset untuk menghilangkan suara. Buat daerah yang tenang atau titik aman di rumah anda dimana tidak ada suara-suara yang akan mengganggu anda nantinya.

Penting juga untuk mencari dukungan sosial dengan orang-orang yang juga mengalami misophonia untuk berbagi cerita. Anda juga dapat menemukan kelompok-kelompok ini di media online dan sosial dimana orang berbagi strategi untuk mengatasi kondisi misophonia ini.

Suara telah menjadi hal yang hampir akan selalu kita dengarkan setiap hari, bahkan andai kita hidup di desa yang tenang sekalipun. Penderita misophonia parah pun sebaiknya memeriksakan kondisi kesehatannya ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat agar penyakitnya bisa disembuhkan dan ia pun bisa menikmati kehidupannya seperti sedia kala.