Home Info Miris, Kopi Diprediksi Tidak Dapat Dinikmati Lagi Kedepannya
Miris, Kopi Diprediksi Tidak Dapat Dinikmati Lagi Kedepannya

Miris, Kopi Diprediksi Tidak Dapat Dinikmati Lagi Kedepannya

0

Di dunia kurang lebih konsumsi kopi mencapai 5 milyar cangkir setiap harinya. Terlebih di Indonesia, keberadaanya kopi mungkin sudah sama percis dengan air putih. Jelas dong, warung kopi aja berserakan dimana-mana. Iyakan kan guys? Yeah, hal itu tentu tak lepas akan kenikmatan yang diberi oleh kopi, terlebih jika kita menikmatinya dipagi hari.

Nah, buat kamu pecinta kopi, sepertinya kamu harus wasapada karena para ilmuwan telah memprediksi bahwa di masa yang akan datang, kopi yang berada di dunia akan lenyap dan mungkin tidak akan lagi dapat dinikmati .

“Apa pasalnya?”

 Produksi kopi terus mengalami penurunan tajam

Nah, kabar buruknya muncul dari perkebunan kopi di seantero dunia. Tepatnya di negara Meksiko, petani-petani kopi sedang dirundung duka karena ancaman gagal panen lagi lagi dan lagi. Dalang terbesar dari ancaman kepunahan akan kopi di negara-negara Amerika Latin ini adalah persebaran penyakit kopi yang biasa disebut Rust. Bercak-bercak cokelat seperti karatan menyebar pada daun, batang, hingga akhinya membuat tanaman mati sepenuhnya.

hipwee-kopi-3-750x508-32uutyz5dgmpssiqeqlbm2-300x150
Akibatnya, petani kopi di Meksiko dan negara-negara Amerika Latin lainnya menebang lebih dari 50% dari tanaman kopi di perkebunan mereka. Karena wabah tersebut, produksi kopi di Meksiko selama 3 tahun terakhir mengalami penurunan drastis. Dari yang tadinya 100% menjadi 50%, 30%, hingga sekarang hanya 10%.

Disamping wabah penyakit, tanaman kopi juga terancam perubahan iklim yang makin tak menentu

s-300x200
Disamping wabah penyakit yang di derita banyak petani kopi di dunia, kondisi ini juga dipicu semakin para oleh perubahan iklim yang melanda bumi. Cuaca yang muda berubah-ubah, musim hujan yang tidak dapat lagi diprediksi membuat jamur lebih mudah berkembang biak dan menyebar. Petani-petani kopi yang dulu bisa menggantungkan hidup pada hasil panen, kini tidak lagi. Terutama untuk jenis kopi Arabica yang memiliki nilai jual yang tinggi. Untuk itu kopi-kopi Arabica hanya bisa tumbuh dengan kondisi cuaca yang ideal. Maka dari itu daripada gagal panen karena cuaca yang tak tentu, banyak petani yang beralih ke varietas yang lebih kuat menghadapi wabah dan perubahan iklim yaitu Robusta. Tapi tentu saja, nilai jual kopi Robusta tak setinggi nilai jugal kopi Arabica.

Perubahan iklim yang punya dampak global juga ancam produksi kopi Indonesia

kopikini-pemanasan-global-ancam-jatah-ngopimu-1-300x169
Negara Indonesia yang terkenal sebagai negara pengekspor kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Vietnam, memang mungkin tak terpukul separah negara-negara Amerika Latin dan Afrika. Namun Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia atau AEKI terus memprediksi penurunan produksi dari tahun ke tahun karena fenomena cuaca seperti El Nino dan La Nina sebagaimana dilansir AntaraNews. Jadi sebenarnya tak ada negara penghasil kopi yang aman dari wabah penyakit maupun ancaman cuaca. Produksi kopi dunia memang terancam punah.

Para ilmuwan Inggris sudah memperingatkan dampak buruk perubahan iklim pada tanaman kopi arabika

sf-300x169

Sebenarnya para ilmuwan terlebih dulu memperingatkan dampak buruk akan perubhan iklim pada tanaman kopi. terlebih pada jenis kopi arabika. Yeah, Kopi Arabika memang mencakup 70 persen produksi komersial dunia dan meskipun ditanam di perkebunan di seluruh dunia, tetapi lingkungan aslinya sangatlah terbatas, terutama di dataran tinggi Ethiopia. Tanaman kopi sangat peka terhadap fluktuasi iklim, namun tanaman liar ini punya beragam gen yang diandalkan para petani kopi untuk meningkatkan panen, tetapi tidak fleksibel terhadap perubahan iklim.

Untuk itu Ilmuwan-ilmuwan dari Royal Botanic Garden di Kew, London, dan Forum Lingkungan dan Kebun Kopi di Ethiopia telah menyelesaikan model komputer pertama mengenai pengaruh perubahan iklim pada kopi arabika asli. Skenario mereka selama akhir abad menunjukkan dampak negatif pada sejumlah spesies dan jenis kopi arabika. Mereka memprediksi, kopi Arabika akan punah di salah satu bagian wilayahnya dalam satu dekade, akibat perubahan iklim selain karena penebangan hutan, hilangnya habitat, dan tekanan pertanian.

Karena arabika adalah satu-satunya kopi yang ditanam di Ethiopia, industri setempat bisa sangat dirugikan oleh perubahan cepat iklim, bisa mengurangi lahan yang bisa ditanami, memerlukan penanganan yang lebih cermat, dan menyebabkan kegagalan panen.

Kopi arabika asli berperan penting dalam produksi kopi di Ethiopia dan mempunyai nilai khusus sebagai sumber genetika kopi liar. Hasilnya diperkirakan bernilai setengah sampai 1,5 milyar dolar per tahun. Ethiopia merupakan pengekspor kopi arabika kelima terbesar di dunia dan produsen kopi utama di Afrika. Kopi merupakan 33 persen dari total pendapatan ekspor Ethiopia. Tanaman kopi arabika paling banyak dan paling beragam jenisnya terdapat di dataran tinggi selatan sampai barat Ethiopia.

Para ilmuwan berharap analisis mereka yang diterbitkan oleh jurnal PLOS ONE akan meningkatkan perkembangan strategi baru untuk mempertahankan kopi arabika di lingkungannya.

Nah, semoga aja deh strategi para ilmuwan inggris mampu memperthankan akan keberadaan kopi di dunia. Saya sendiri sih tidak akan bisa membayangkan jika dunia tanpa kopi? sebagian besar dari masyarakat modern sulit bisa bangun di pagi hari dan beraktivitas jika belum minum kopi. Ancaman punahnya kopi ini sama saja seperti ancaman terhadap peradaban manusia. Sebenarnya kopi hanyalah satu dari banyak hal yang akhirnya harus kita relakan jika kerusakan iklim dibiarkan pada levelnya saat ini. Maka dari itu menjaga dan merehabilitasi lingkungan adalah tanggung jawab bersama yang harus segera dilaksanakan 🙂