Home Business Mengenal Estetika Ebru, Seni Kaligrafi Di Atas Air
Mengenal Estetika Ebru, Seni Kaligrafi Di Atas Air

Mengenal Estetika Ebru, Seni Kaligrafi Di Atas Air

0

Hallo guys, pernah dengar pepatah “Bagai Melukis Di Atas Air”? Yap, arti dari pepatah tersebut adalah melakukan sesuatu yang sangat amat sulit untuk dapat dilakukan. Tapi menurut ane tuh pepatah sekarang udah gak tepat lagi. Karena ada seni yang bisa melukis di atas air. Nah, gimana penasaran kan? Yuks, kita intip bareng-bareng penjelasannya dibawah ini.

Asal Usul Seni Lukis

Salah satu perwujudan estetika Islam yang sering dikesampingkan ialah seni lukis. Padahal tradisinya memiliki sejarah panjang. Sebab-sebabnya mungkin karena seni lukis dalam tradisi Islam berkembang pesat di luar kebudayaan Arab, seperti Persia, Asia Tengah, Turki, India Mughal dan Nusantara. Sedangkan apa yang disebut kebudayaan Islam kerap diidentikkan dengan kebudayaan Arab.

Kecenderungan tersebut tampak pada sebutan ‘Arabesque’ terhadap ragam hias tumbuhan yang mengalami perkembangan pesat sejak berkembangnya agama Islam dan peradabannya. Sebab yang lain ialah anggapan bahwa larangan menggambar makhluk hidup yang bergerak seperti manusia dan binatang benar-benar didasarkan atas sumber al-Qur’an. Padahal ketidaksenangan ulama atau fuqaha tertentu terhadap seni lukis, sebagaimana terhadap seni pada umumnya lebih didasarkan pada hadis tertentu yang kesahihannya masih terus diperdebatkan sampai sekarang.

Pada mulanya seni lukis dalam Islam muncul di wilayah-wilayah yang sebelum datangnya Islam telah memiliki tradisi seni lukis yang telah maju. Khususnya Persia, Iraq dan Asia Tengah. Di kawasan-kawasan ini peradaban besar masa lalu telah muncul seperti Mesopotamia, Sumeria, Assyria, Babylonia, Sughdia dan Persia. Tidak heran jika lukisan tradisi Islam paling awal dijumpai di wilayah-wilayah ini. Lukisan tertua misalnya dijumpai pada dinding istana Bani Umayyah yang dibangun oleh Sultan Walid I pada tahun 712 M di Qusair Amra, Syria dan juga lukisan di tembok bekas istana Sultan al-Mu`tazim dari Bani Abbasiyah di Samarra, Iraq yang dibangun pada tahun 836-9 M.

Seni Ebru Atau Marbling

ebru 1Pada postingan sebelumnya secara sekilas kita telah melihat perpaduan seni ebru dan seni kaligrafi. Kali ini kita akan coba melihat lebih jauh bagaimana proses pembuatan seni ebru.

Seni marbling ditemukan pada abad ke 13 M di Turkistan. Seni dekoratif ini kemudian menyebar ke berbagai negara seperti China, India dan Anatolia (sekarang Turki). Para seniman kaligrafi Seljuk dan Turki Usmani (Ottoman) saat itu banyak menggunakan seni marbling untuk menghiasi sampul-sampul buku mereka. Penggunaannya kemudian meluas pada dokumen resmi dan surat menyurat. Para seniman Turki lah yang kemudian mengembangkan seni ini dan menemukan banyak cara untuk membuat seni ebru serta menyempurnakan teknik pembuatannya. Hal inilah yang kemudian menjadikan negara Turki sebagai pusat seni marbling selama berabad-abad sampai sekarang. Mka dari itu masyarakat Turki seni ini kemudian disebut EBRU. Kata ebru mungkin diturunkan dari kata Ebrí yang berarti awan atau dari kata Abrú yang berarti permukaan air

Bahan Utama dan Langkah-Langkah Pembuatan Seni Marbling

Bahan-bahan utama yang dibutuhkan untuk seni marbling bisa dibilang tidak banyak tersedia di negara kita Indonesia terutama getah Travaganth. Untuk mendapatkan suplay bahan-bahannya, kita mungkin harus membelinya secara online. Lebih bagus lagi bila anda bisa menemukan bahan-bahan alternatif untuk seni marbling. Indonesia sendiri merupakan negara yang kaya, banyak jenis mineral dan getah yang tersedia. Siapa tahu anda menjadi pakar marbling Indonesia dengan bahan bahan khas Indonesia.
Saya tidak akan menjelaskan detail cara pembuatan seni ebru karena saya tidak pernah melakukannya. Disini hanya akan memberikan beberapa rangkuman tulisan mengenai cara membuat seni ebru. Bahan bahan dan alat alat pembuatan ebru (beberapa diantaranya khas Turki), antara lain:

1. Kitre atau getah tragacanth

tragacanth
Getah yang disadap dari sejenis pohon berduri khas Timur Tengah dan Turki. Ketika kering warnanya putih tulang. Bahan ini tersedia dalam bentuk cair dan bubuk.

2. Tray atau wadah

tray
Untuk dapat menampung media lukis. Anda dapat mengukur sesuai besarnya dengan ukuran kertas.  Lalu larutan getah Tragacanth yang sudah siap dapat anda tuangkan kedalam tray atau wadah tersebut.

3. Pewarna alami

dye
Ini adalah pewarna yang berasal dari mineral dan tumbuh-tumbuhan. Pewarna ini biasanya dicampur dengan empedu hewan (cattle gall), agar pewarna dapat dengan cepat memekar anda dapat meneteskanya kedalam tray. Biasanya pewarna ini memiliki aroma yang sangat tidak enak. Dan untuk dapat membeli pewarna tersebut biasanya pewarna alami ini tersedia secara online.

4. Peralatan Lukis

Peralatan ini menggunakan kuas dari bulu kuda (horsehair), pipet, sisir, tongkat dan lain lain. Nah, bila anda sudah melengkapi peralatannya maka anda sudah bisa untuk memulai membuat seni ebru. Kiat-kiat untuk membuatnya adalah sebagai berikut:

a. Cipratkan pewarna, pewarna akan membentuk pola-pola marmer di atas larutan tragacanth.
b. Teteskan warna-warna yang disukai, lalu buat menjadi motif yang anda sukai.
c. Letakkan kertas diatasnya. Setelah kertas diangkat, anda akan mendapatkan seni ebru yang indah.

Well, jika anda semakin penasaran bagaimana prose pembuatannya, mending tonton saja langsung videonya. Berikut ini adalah beberapa video yang sudah kami lampirkan.


Itulah penjelasan mengenai estetika ebru yang perlu anda ketahui, semoga informasi yang kami sampaikan ini dapat bermanfaat untuk anda yang membacanya. Enjoy your life…